monolog manusia malam

7 Jul

Sekelebat galau menyergap aku dalam diamnya malam.
Mencoba mengusik saatku untuk sunyi
‘Aku tak ingin hadirmu!’ hardikku kesal
‘Ah, sudah nikmati saja rasanya’ sahutNya ringan.

Gemerisik dedaunan yang bergesek terhembus angin berbisik lembut menenangkanku.
Dalam kelam, malam membungkusku erat mendekap.

‘Hey, mana sahabat-sahabat mungilmu?’ tanyaku pada sang luna.

Luna tersenyum,’ada saat-saat dimana mereka tidak kuat untuk bersinar…’

Aku mencibir,’lalu apakah kau kuat berjaga sendiri dalam sepi?’

‘Kalau aku tidak cukup kuat, tidakkan dunia akan semakin suram?’ tanya Luna. ‘Lagipula, masih ada manusia-manusia kesepian sepertimu yang selalu kutemani,’ sambungnya.

Aku terdiam. Aku benci sekaligus cinta pada sepi.
Benci karena aku merasa sendiri.
Cinta karena aku terlepas dari hiruk pikuk.

Belaian angin menyapaku,’apa yang kau cari disini?’
Tenang. Damai. Sepi.
Ah, lagi-lagi kata itu muncul lagi!

DIA terkekeh,’kau ternyata salah satu dari manusia-manusia bebal dan bodoh itu’

Aku mengernyit bingung.

‘Kau tahu, Ras manusia terbagi dua. Yang pertama, mereka pikir dengan semua kesibukan dan hiburan ramai, mereka bisa temukan kedamaian. Yang kedua, seperti kau, mengasingkan diri untuk temukan kedamaian. Keduanya tetap berakhir dengan sepi,’ ocehNya seraya menerawang.

Aku mendesah gusar,’Kau tahu, permainanMu terlalu melelahkan bagi kami.’

DIA tersenyum simpul,’kalian sendiri yang membuat karyaKu menjadi arena pertempuran dan kompetisi untuk keegoisan kalian. Salahkah Aku karena kebodohan kalian?’

Aku terkesiap. Seketika terbayang imaji manusia-manusia gladiator yang membuatku bergidik ngeri. Dunia tempatku berpijak memang dingin, kejam, semu. Dan aku juga bagian si manusia-manusia gladiator!

‘Manusia, apakah kau sanggup bertahan di bawah sana?’ Luna bertanya prihatin.

Bibirku terkunci rapat. Bohong bila kukatakan ya, batinku. Aku memilih untuk membiarkan dua bulir airmata yang berteriak putus asa dalam sunyi,’aku takut, Luna!!!’

‘Sepercik kedamaian walau dalam helaan nafas malam, sudah cukup untuk relung jiwaku…’ pintaku dalam asa padaNya.

‘Tidurlah manusia, tak perlu kau risaukan gundah gulanamu, Aku, Luna dan sahabat-sahabatku menemanimu. Damai itu untuk dirasakan, bukan dicari. Maka itu sudah rasakan saja.’

Langkah kaki jarum jam perlahan menghipnotisku tenggelam dalam fatamorgana bunga tidur. Aku bermimpi…aku bahagia dalam damai.

Vness

3 Responses to “monolog manusia malam”

  1. xmi July 19, 2011 at 6:42 pm #

    bagus nek, u play well with words. one of my top friends in bahasa indo. go write something to publish hehe

    • Vanessa September 9, 2011 at 10:48 pm #

      thanks a lot xumee!!! hehe. baru baca comment u, we should collaborate to publish somethingšŸ˜€ thanks again!

      • anita October 10, 2011 at 8:53 am #

        but my vocab isnt as good. hehe.. im open if u wanna try writing something.. just skpe mešŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: