Apa kabar Indonesia?

27 Oct

Sore ini, seorang teman di Perancis memberitahu saya tentang adanya gempa di Sumatera dan bertanya tentang keadaan saya. Kata “tidak tahu, itu jauh dari tempat saya” meluncur cepat sebagai jawaban, sembari saya menyalakan TV untuk mencari berita.

SUMATRA BARAT

“23 orang meninggal dan 103 orang hilang akibat tsunami di Mentawai”
Demikian yang tertulis di tagline televisi pada pukul 4 petang hari ini.

Perbincangan mengenai penyebab gempa, alasan pencabutan status ‘awas tsunami’, status korban gempa, proses pengevakuasian, dan sebagainya, mewarnai berita di 2 stasiun televisi yang saya ikuti.

reporter : kenapa pihak BMKG mencabut peringatan ‘awas tsunami’?
BMKG : karena tsunami sudah terjadi dan itu bukan ancaman lagi.
reporter : tetapi akhirnya ada tsunami susulan, bukankah pihak BMKG seharusnya tahu tentang itu?
BMKG : kami mengetahui adanya tsunami hanya berdasarkan perangkat-perangkat yang kami sebar. Dan yang terdekat dari Kepulauan Mentawai, ada di Teluk Bayur.
reporter : apakah tsunami ini tergolong besar sehingga pihak BMKG terkesan tidak menganggap sebagai ancaman?
BMKG : tsunami yang terjadi memang kecil.
reporter : kami telah terhubung dengan pihak LIPI yang mengamati kejadian dan mendapat keterangan dari saksi setempat.

(reporter bertanya pada pihak LIPI)
reporter: menurut bapak …… apakah tsunami yang ditimbulkan besar atau kecil?
Pihak LIPI :berdasarkan keterangan dari saksi setempat dan warga sekitar, tsunami yang terjadi besar. Tinggi ombak diperkirakan sekitar 6 meter.

Reaksi saya seketika mendengar perbincangan itu : what the hell!
Kalau pihak BMKG hanya mengandalkan perangkat-perangkat, lalu apa fungsi mereka?
Kenapa jawaban yang dilontarkan terdengar seperti jawaban dari orang yang tidak berpendidikan? Dimana terdengar seperti “pokoknya sudah sesuai prosedur, diluar itu, bukan tanggung jawab saya”

“Memang tipikal pejabat pemerintah yang bisanya hanya memberi jawaban klise!” umpat saya dalam hati.

DKI JAKARTA

Tidak berselang lama, headline news menampilkan berita baru tentang banjir yang terjadi di Jakarta. Seperti kebanyakan orang yang berpikir “ah, sudah biasa”, itulah yang terlintas di otak saya. Tetapi semakin saya ikuti berita itu, informasi memberitahu bahwa 3 perumahan di daerah Tangerang terendam banjir setinggi hampir 1,5 meter. Hampir 100% rumah terendam banjir dan mereka terjebak di dalamnya. Jalan-jalan protokol di Jakarta pun mengalami hal yang sama sehingga kemacetan yang biasanya berlangsung 3 jam, membengkak jadi 6 jam!

News presenter dari stasiun televisi setempat memberitakan tentang banyaknya warga Jakarta yang menganggap ini karena kelalaian dari Gubernur DKI Jakarta yang gagal menepati janjinya.

Seorang pengendara motor berkata,”Mana janjinya? Cuma masalah banjir saja tidak bisa dibereskan. Harusnya jangan cuma omong, tetapi tidak ada pelaksanaan. Pak Fauzi mah hanya bisa omong!”

Seorang karyawati berkomentar,”yah, menurut saya harusnya masalah banjir itu bisa lebih mudah dibereskan ya. Kalau kemacetan sih susah. Tapi kalau masalah banjir kan sudah jadi komitmen dari awal, begini saja sudah tidak bisa berbuat apa-apa”

Berbagai kecaman lain di twitter dan gambar-gambar yang menunjukkan Gubernur DKI Jakarta terendam banjir dimuat di berbagai media, ditambah olok-olok dari masyarakat.

“Ah! Memang semua pejabat ‘kan hanya besar omong! Mau ganti gubernur puluhan kali juga tetap saja banjir!” umpat saya dalam hati.

JAWA TENGAH
“Gunung merapi memuntahkan awan panas beberapa kali, debu vulkanik bertaburan, dan erupsi sudah terjadi. Warga sekitar Merapi sedang dievakuasi, namun beberapa warga dan juru kunci dari Merapi tetap bersikeras untuk tidak ikut dievakuasi.”

2 minggu yang lalu, saya membaca di Jakarta Globe bahwa ada 21 gunung berapi yang berada dalam status siaga, dan Gunung Merapi yang terkenal adalah satu diantaranya.
Berita simpang siur dari pihak PVMBG membuat warga tidak menghiraukan peringatan yang telah diberitakan sejak tanggal 25 Oktober 2010, jam 6 pagi.
Beberapa korban yang meninggal diakibatkan oleh gagal pernafasan karena debu vulkanik, dan luka bakar karena awan panas.

Setelah mendengar headline news terakhir, saya tidak bisa mengeluarkan sepatah umpatan pun.
Terkesiap melihat aksi masif dari Sang Esa. Terperangah menyaksikan kekejaman alam.
Dalam waktu kurang dari 48 jam, Sang Esa mengusik 3 daerah dengan 3 bencana yang berbeda.
Ratusan nyawa melayang dan ratusan raga terluka parah, dalam hitungan hari.

Kenapa Sang Esa tega menumpahkan ini semua ke Indonesia?
Kenapa hanya Indonesia yang sering terkena bencana, dan tidak dengan negara lain?

Seketika saat kita melihat apa yang terjadi di depan mata, kita cenderung mengacungkan jari ke siapapun, demi membenarkan posisi kita.
Itu yang dilakukan para warga sekitar Mentawai yang menuding pihak berwenang, si pengendara motor dan si karyawati yang kecewa di Jakarta, dan para keluarga korban Merapi yang menyalahkan lambatnya tim evakuasi.
Itu yang dilakukan oleh saya yang hanya bisa mengumpat!

Saat saya bercerita tentang ini semua, seorang teman bertanya kepada saya,“Apa yang telah diperbuat manusia kepada Alam?”

Pertanyaan itu menjadi kunci jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan dan kekesalan yang meluap di pikiran saya.
Apa yang telah saya perbuat? Apa yang telah manusia perbuat?
Ya, jawabannya dikembalikan ke subjek pertama! Introspeksi!

Ketika kita melihat masalah ini semua dari sudut pandang yang lain dan mengijinkan kebenaran yang menjadi hakim, semua jadi terlihat jelas.


>Jika warga di sekitar Sumatra Barat cukup peduli untuk membantu proses evakuasi saat gempa baru terjadi, korban meninggal dan hilang tentu akan lebih sedikit!
Karena menuding kelalaian BMKG tidak akan membuat orang-orang hilang itu ditemukan!

>Jika si pengendara motor dan karyawati itu tidak membuang sampah sembarangan;dan pihak-pihak developer bangunan tidak membabat sungai untuk keperluan pembangunan perumahan baru, banjir tidak akan menjadi separah ini!
Karena menyalahkan gubernur DKI Jakarta, tidak akan membuat banjir menjadi surut!

>Jika para keluarga korban merapi mengikuti saran pihak PVMBG, untuk dievakuasi dan tidak terlalu naif untuk berpedoman pada Mbah Maridjan yang notabene hanya seorang manusia tua, korban tewas tidak akan berjatuhan senaas ini!
Karena menyalahkan kelalaian tim evakuasi, tidak akan mengembalikan nyawa yang melayang!

>Jika saya bisa mengubah pola pikir dalam melihat bencana di depan saya, akan ada banyak hal positif yang bisa saya lakukan untuk membantu!
Karena mengumpat dan menuding, tidak akan membuat manusia sadar dan cukup rendah hati untuk mengintrospeksi dirinya!

Bung Karno pernah berucap,
“beri aku 10 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya
beri aku 1 orang muda akan kuguncangkan dunia”

Itu penggalan dari sebuah iklan komersial di salah satu stasiun televisi, yang berkali-kali saya dengar dalam jangka waktu 10 jam terakhir, dan terus terngiang di benak saya.

Apa kabar Indonesia?

Kabar terakhir ( 27 Oktober 2010, 00:01) :

Mentawai : 112 orang meninggal, 502 orang hilang
Jakarta : 2 orang tewas, 3 perumahan di Tangerang terendam banjir, jalan-jalan protokol masih terendam banjir
Merapi : 18 orang tewas terpanggang, 1 bayi tewas akibat gagal pernafasan, korban-korban luka bakar tidak diketahui pasti jumlahnya, 9 wartawan dan beberapa orang masih hilang.

Mungkin opini saya bertentangan dengan pihak mayoritas yang cenderung menyalahkan pihak-pihak terkait.
Kita sadar betul bahwa masalah infrastruktur, sistem manajemen kota, dan penanganan bencana, memang tergolong rendah. Hanya memprotes tidak akan membawa perubahan!
Pertanyaannya bukan “sampai kapan masyarakat akan menderita?”
Pertanyaannya adalah,“sampai kapan masyarakat MAU PEDULI dan berhenti bersikap kekanakan yang hanya mampu menuntut?”
Tidak peduli pemerintah ataupun penduduk, terlepas dari semua embel-embel yang menempel,
kita adalah SATU, INDONESIA. Mari bersama berduka dan membangun INDONESIA SATU.

Lamat-lamat, sebelum saya menutup hari, terdengar beberapa kalimat terakhir dari iklan komersial di sebuah stasiun televisi :

demi kedamaian keturunan… suku… agama… golongan… dan aliran politik…
SATU NUSA
SATU BANGSA
dan
SATU BAHASA PERSATUAN
UNTUK INDONESIA SATU

Vness

p.s: my condolences to Houston, Texas, for the tornado that hit the city.

One Response to “Apa kabar Indonesia?”

  1. yk October 27, 2010 at 8:34 pm #

    si mbah maridjan mate dlm posisi bersujud, tau ngga lo?
    ada yg lebih menghebohkan lg, masa yaa, gubernur kota kite sempet blg gn “itu bukan banjir, hanya genangan air” ceka ceka ceka. hahahaha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: