Indonesia, saya peduli

3 Sep

Beberapa waktu belakangan saya berpikir tentang sikap Malaysia yang sewenang-wenang terhadap kedaulatan Indonesia. Dibalik kisruh dan demonstrasi tanpa intelektual, sebaliknya, saya mencoba melihat apa yang membuat nama Indonesia diinjak-injak. Tak lama hingga kerisauan saya terjawab oleh pidato ‘cemerlang’ dari bapak presiden tercinta. Pidato yang berlatar belakang tempat di Mabes Polri TNI, diharapkan mencitrakan profil pemimpin bangsa yang tegas untuk membela martabat bangsa, tetapi sungguh disayangkan karena cuap-cuap itu tidak lebih hanya menunjukkan kelemahan Indonesia di mata negara lain.

Bukan perang yang bangsa Indonesia inginkan, tetapi ketegasan dan tindakan konkrit. Perlu dicamkan, bukan kekuatan otot yang ingin dipamerkan, tetapi suara radikal kami yang diekspresikan itu semata untuk menunjukkan bahwa tidak boleh ada penghinaan mendarat di tanah air kami. Dan harapan kami, suara radikal itu menggelitik kepedulian Bapak Presiden untuk bersikap tegas. Saat berkali-kali warisan kebudayaan Indonesia di klaim, nasib TKI terlecehkan, dan batas wilayah selalu dilanggar, Indonesia mengharapkan sosok pemimpin untuk bertindak, bukan hanya surat yang dilayangkan tanpa gubrisan. Action speaks louder, Mr. President.

Belum dingin konflik negara dengan negara tetangga, tanpa malu-malu dewan wakil rakyat menyatakan keinginan ‘mulia’ mereka demi memperbaiki kinerja. Sungguh hebat rencana yang ditetapkan sampai-sampai memakan dana APBN sebesar 1,6 triliun rupiah untuk pembangunan gedung baru beserta kelengkapan fasilitasnya. Dengan dana sebesar 1,6 triliun rupiah, gedung baru terdiri dari 36 lantai, 14 lift, fitness center, spa, kolam renang, dan ruangan setiap anggota dewan sebesar 120 m2 untuk kenyamanan bekerja (masih ada kontroversi statement tentang fasilias spa, fitness center, dan kolam renang). Dewan wakil rakyat kita juga berencana untuk menambah staff ahli.

Menurut Ketua DPR, Bapak (MA), perangkat fasilitas yang lengkap akan meningkatkan kerseriusan kinerja anggota dewan. Sedangkan menurut anggota DPR (VM), Fitness Center akan berguna, karena membuat tubuh lebih bugar dan akan meningkatkan konsentrasi saat bekerja. Menurut Ketua Badan Anggaran DPR (MMM), penambahan staff ahli diperlukan karena Amerika saja mempunyai 12 staff ahli. Tak cukup dengan itu semua, kenaikan gaji pun direncanakan dari gaji yang sekarang sebesar Rp.56.000.000,00

Inikah kinerja yang pantas dihargai 1,6 triliun rupiah?

Berita tersebut saya lihat dari salah satu program stasiun televisi. Dengan tenang dan seolah itu permintaan yang sangat wajar, para wakil rakyat itu bersikukuh menginginkan pembangunan gedung baru senilai 1,6 triliun rupiah. Kecaman dari masyarakat yang menentang pun ditanggapi dengan “suka atau tidak suka, pembangunan kan tetap dilaksanakan.” Wah, wah, sekarang saya justru mempertanyakan, apakah mereka itu manusia tulen?

Menurut salah satu sumber diperoleh bahwa total dana asuransi untuk rakyat miskin sebesar 1 triliun rupiah. Dana itu digunakan untuk 30 juta jiwa manusia. Bagaimana jika kita bandingkan dengan dana sebesar 1,6 triliun rupiah untuk sebuah gedung dengan 36 lantai yang mengakomodasi 2000 orang wakil rakyat yang masing-masing berpenghasilan 56 juta rupiah per bulan? Menurut sensus Maret 2010, sebanyak 31,02 juta rakyat masih hidup dibawah garis kemiskinan. Sungguh alangkah mulianya jika setengah dari angka 1,6 triliun digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka yang berkesusahan. Bayangkan betapa bersyukurnya mereka jika “wakil rakyat” mereka menyisihkan dana itu untuk memberi mereka tempat tinggal yang layak dan pangan yang cukup?

Bukankah wakil rakyat menggemborkan untuk mewakili aspirasi dan jeritan sengsara rakyat saat mereka mengemis untuk dipilih duduk di jenjang pemerintah? Mengapa saya menggunakan kata ‘mengemis’? Karena politik busuk dan uang haram yang mereka gunakan untuk meyakinkan masyarakat. Jangan salahkan masyarakat yang mau untuk disuap. Mereka yang kekurangan pendidikan hanya mencari cara untuk bertahan hidup, dan wakil rakyat yang mengaku berpendidikan, memanfaatkan keterpojokan mereka.

Di sela-sela kepesimisan rakyat, masih ada percikan harapan bahwa para wakil rakyat yang terpilih dapat memperjuangkan nasib rakyat miskin. Nyatanya wakil rakyat yang bermanis mulut saat kampanye, berubah menjadi koruptor nista yang meraup keuntungan sebesar-besarnya selama masa jabatan. Tak jarang undang-undang yang dibuat pun semata hanya untuk kepuasan dan keuntungan pribadi dalam masa jabatan. Sesungguhnya bukan hal istimewa koruptor-koruptor tetap eksis di bumi pertiwi. Bukankah baru-baru ini kepala negara memberi grasi pada 2 koruptor besar di Indonesia? Dan timpangnya, maling helm justru tewas diterjang peluru aparat!

Hai, para manusia dewasa yang mengaku sebagai wakil rakyat, saya mempertanyakan keberadaan nurani kalian melihat keterpurukan bangsa ini. Dimana hati anda saat menuntut ruangan sebesar 120 m2, sedangkan diluar sana banyak anak-anak kecil yang harus mengais sampah untuk mencari sesuap nasi? Dimana rasa malu anda saat meminta fasilitas lebih, sedangkan diluar sana masih banyak saudara-saudara yang tidur di trotoar? Bagaimana dengan saudara-saudara yang sedang dievakuasi dari gunung Sinabung? Bagaimana dengan masyarakat di Buol, Sulawesi Tengah? Tidakkah ada sedikit rasa manusiawi yang tersisa saat melihat itu semua atau uang sudah membunuh sisi kemanusiaan kalian?

Sebelum kalian menuntut, lihatlah kembali apa yang sudah kalian lakukan untuk bangsa ini. Jika kalian menganggap kinerja kalian baik, lihatlah kaleidoskop berikut ini. Inilah saudara-saudara setanah airmu.


Kesimpulan yang saya petik dari konflik panas Indonesia-Malaysia adalah kita sebagai bangsa Indonesia memang perlu menentang tindakan sewenang-wenang yang menodai kehormatan negara. Lebih daripada itu, kita berhutang untuk melihat ke dalam, bahwa substansi-substansi negara yang timpang, pranata-pranata hukum yang tidak konsisten, disorientasi konstitusi, dan lemahnya semangat juang generasi muda, merupakan beberapa andil yang membuat kedaulatan Indonesia disepelekan.

Ini adalah sebagian dari ungkapan hati penulis yang terusik dengan situasi bangsanya. Penulis hanya seorang mahasiswa yang mengenyam pendidikan di bumi Indonesia dan merasa berkewajiban untuk ikut prihatin dengan keadaan negaranya. Dengan ditulisnya post ini, penulis berharap dapat menginspirasi kawan-kawan sesama mahasiswa/pelajar/pendidik dan pihak-pihak terkait, untuk peduli dengan tanah air Indonesia. Indonesia membutuhkan generasi penerus bangsa yang berdedikasi. Kualitas intelektual kita akan menjadi sia-sia jika tidak disertakan oleh kualitas sosial-emosional.

Penulis juga mengakui kekurangan dan keterbatasannya, namun dengan keseluruhan diri, penulis bersedia memperjuangkan martabat Indonesia. Penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan penulisan atau informasi. Fakta-fakta yang dipaparkan dalam tulisan ini, diambil penulis dari berbagai sumber media.

Indonesia Unite!

Vness

7 Responses to “Indonesia, saya peduli”

  1. Lita September 3, 2010 at 1:11 pm #

    Dari kejadian yang sudah lewat pun bisa dilihat kalau setiap batas wilayah dilanggar (sebagai contoh) akhirnya pun tidak ada tindakan yang tegas. Jadi bukan sesuatu yang aneh jika mereka pun tidak segan2 utk mengulang ‘penindasan’ terhadap Indonesia.
    Sepertinya orang Indonesia memang harus diajak berpikir lebih kritis menanggapi masalah dalam bangsa ini.
    Bagaimanapun setiap tindakan mempunyai sisi positif dan negatif.

  2. meitha soekotjo September 3, 2010 at 1:44 pm #

    Keep the spirit, girl..
    Be the breeze when it’s hot.
    Be clear when it’s chaos.
    Be on fire deep down in you…and be hot when the air is clear and cold!
    Keep your faith, because it’s more challenging than doing anything…especially when it’s chaos.

    Those all words are for my soul too, Ness..
    You are not alone❤

  3. anonymous September 4, 2010 at 5:09 pm #

    wow you really do like controversial topics! love your blog. keep typing! :]

    • Vanessa September 9, 2010 at 7:49 pm #

      I stand for what is right. Unfortunately, Most of the right one are controversy ;p thanks for reading my blog, I’ll keep it up🙂

  4. xmi September 6, 2010 at 1:02 pm #

    1) ya betul negara kita perlu rakyatnya bersatu..tapi satu lg masalahnya..nasionalisme hrs tumbuh dari hati tiap individu,nda bs dipaksa. caranya?..hmm.. you should suggest that in another long post.
    2) you’re a good writer. good vocab, interesting substance elaborated. go nenek gombel! write for the local newspaper! heheee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: