Mahasiswa atau sampah masyarakat?

14 May

Seorang teman baru saja menceritakan tentang ‘kelakuan manis’ beberapa orang junior yang kelewat batas dalam sebuah mata kuliah laboratorium yang di-asisten-kannya. Ini bukan pertama kalinya saya mendengar tentang kelakuan bobrok oknum-oknum tersebut. Berulang kali juga saya melihat tindakan sampah mereka di kelas, melecehkan dosen, menghina senior, membuat rusuh kondisi kelas, dan sebagainya. Bukan masalah ‘gila hormat’ yang ingin saya usung disini, tetapi bagaimana sikap sebagai seorang individu berusia 20 tahun yang bertingkah seperti bocah tidak berpendidikan (bahkan bocah dari suku pedalaman pun masih punya aturan).

Status sebagai mahasiswa bukanlah sekedar status untuk gaya-gayaan. Kata “maha” didepan kata siswa menunjukkan bahwa kita diberi kehormatan untuk memegang status tertinggi sebagai penuntut ilmu. Universitas adalah lembaga pendidikan dimana kita diajarkan untuk siap terjun ke masyarakat, baik pengajaran secara mental maupun akademik. Nyatanya, universitas dan status mahasiswa hanyalah dua kata yang disalahgunakan untuk keren-keren-an.

Faktanya, orang tidak melihat apa status pendidikan kita, dimana kita kuliah, jurusan apa yang kita ambil. Dunia melihat kita sebagaimana apa adanya diri kita, dari cara kita bertuturkata, bersikap, bertata krama, dan bertindak.

Bullying kini justru menjadi tren di kalangan dunia pendidikan, bahkan sudah dimulai dari jenjang Sekolah Dasar. Globalisasi, katanya. Ah, saya tidak yakin kita semua tahu apa arti globalisasi.

Tidak dipungkiri budaya kita memang sudah terkontaminasi dengan budaya barat. Tetapi sungguh disayangkan, budaya barat yang kita serap justru yang negatif. Hal itu semakin menunjukkan kebodohan mental bangsa kita yang tidak bisa menyaring mana yang baik dan buruk untuk perkembangan diri. Justru, sisi positif dari budaya barat, tidak pernah berhasil untuk kita adapatasi. Plin-plan!

Siswa merasa hebat jika bisa memojokkan siswa lain. Senior merasa bangga jika bisa mendamprat junior. Merasa perkasa jika sudah memenangkan tawuran dari sekolah lain. Mahasiswa merasa dewa jika bisa melecehkan dosen di ruang kuliah atau membuat ‘sensasi’ di kampus.

Maaf kata, itu semua justru terlihat MURAHAN. Semua usaha untuk terlihat keren jadi terlihat NOL BESAR di mata dunia. USELESS.

Apa itu esensi dari pendidikan?

Jika jawabannya ya, maka kita lebih baik banyak mendirikan sekolah untuk anjing. Karena nyatanya anjing masih bisa dididik dan berguna.

Saya sungguh tidak habis pikir dengan kelakuan beberapa oknum tersebut. Apa yang sebenarnya mereka banggakan dari diri mereka? Apakah bullying hanya bentuk kedok mereka untuk menyatakan pada dunia bahwa mereka ada? Karena jika benar demikian adanya, sungguh miris melihatnya. Sungguh disesalkan nama almamater yang susah payah dibangun reputasinya berpuluh-puluh tahun, harus rusak oleh ulah bobrok beberapa individu.

Saya teringat pepatah,”tong kosong nyaring bunyinya“. Ya. Semakin orang tersebut berulah, semakin lah kita bisa yakin bahwa orang tersebut tidak ada ‘isinya’. Karena saya yakin, orang yang intelek, orang yang berpendidikan, orang yang dididik dengan tata krama, tahu cara menempatkan diri.

“Padi semakin berisi, semakin merunduk.”

Pesan saya :
Saat kalian melecehkan orang lain, sesungguhnya kalian sedang mempermalukan diri kalian dan menunjukkan pada semua orang bahwa kalian bukan orang dewasa. Kalau kalian tidak siap untuk ditempa menjadi sosok yang berkualitas, jangan rusak nama almamater kami, silahkan teruskan usaha kalian menjadi SAMPAH MASYARAKAT.

Jangan bangga karena kalian bisa menjadi mahasiswa teknik kimia. Banggalah karena jati diri dan kualitas yang kalian punya sebagai seorang mahasiswa dan calon sarjana teknik kimia.

Pertanyaannya : apakah kalian punya jati diri dan kualitas itu?

Vness

5 Responses to “Mahasiswa atau sampah masyarakat?”

  1. yoke cantik May 14, 2010 at 12:42 am #

    hohoho..
    kadang gw berpikir, apa pernah, saat kita berada di posisi mereka, posisi praktikan yg membutuhkan bimbingan asisten, berlaku sepeti itu?
    apa mungkin kelakuan mereka yg seperti itu merupakan hasil kegagalan dalam usaha mendidik mereka?
    tapi setelah dipikir2, sepertinya memang jati diri mereka yang seperti itu, sorry to say, hahaha..

  2. Vanessa May 14, 2010 at 12:46 am #

    hahaha, sejujurnya saya tidak pernah bertingkah seperti itu. I stand for what is right, remember? hahaha. masalahnya, manusia-manusia seperti itu memang sudah salah didik dari awal dan yah, tidak dipungkiri, memang dalam produksi suatu produk pasti ada produk tidak lolos sortir dan harus DIBUANG kan?

  3. Anonymous May 14, 2010 at 12:48 am #

    hmm.orang bebas memilih jalan mereka masing masing.kalau emg mereka pilih jalan itu n merasa hal itu benar, apa boleh buat. ada hitam ada putih

  4. Lita May 14, 2010 at 12:54 am #

    waaahh udah mulai cinta Indonesia nek? xp
    udah mulai perhatian nii dgn keadaan anak2 ituu..hahhaha.

  5. yoke May 15, 2010 at 9:03 pm #

    itu yg “anonymous” syapa yaaa? misterius sekalii d..huakakkakak..
    *saya mulai ga penting*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: