Beragamakah saya?

19 Apr

“Agama kamu apa?”
“Beribadah di mana?”

Untuk yang kesekian ratus kali pertanyaan-pertanyaan tersebut “menyerang” saya, dan sepertinya jawaban saya pun tidak memuaskan para penanya. Tidak jarang jawaban saya menimbulkan asumsi bahwa saya ATHEIST, atau saya AGNOSTIK, atau saya MURTAD, atau saya EGOIS, dan sebagainya. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Ya, itu yang saya lakukan kerap kali.

Namun tak habis pikir, mengapa sebuah agama dijadikan ukuran standard kualitas hidup seseorang? Sepenting itukah status agama dalam kehidupan manusia? Coba kita lihat fakta yang ada.

Berapa banyak orang yang rajin beribadah, tetapi hidupnya tetap bejat?
Berapa banyak orang yang berkoar-koar menyebarkan agama, tetapi hidup tanpa kasih?
Berapa banyak orang yang mengatasnamakan agama untuk tindakan amoral?

Saya tidak membenci agama, tetapi saya membenci personal yang mendewakan agama.

Agama adalah sebuah institusi religius, hasil karya pikir manusia. Kepercayaan akan suatu sosok yang disebut sebagai Tuhan itu adalah personal. Agama seringkali membuat manusia merasa lebih pintar dari Sang Pencipta. Merasa bahwa dirinya yang paling tahu mana yang baik untuk anggotanya, tanpa peduli apa yang sesungguhnya dititahkan Sang Khalik. Agama membuat seseorang naif, tanpa peduli bahwa esensi dari agama itu adalah kasih. Ya, KASIH. Kasih terhadap dirinya, keluarganya, orang-orang disekitarnya, lingkungannya, bahkan terhadap orang yang tidak layak untuk dikasihi.

Tidak dipungkiri bahwa hidup rukun antar umat beragama yang diajarkan sejak TK adalah omongkosong besar. Nyatanya berapa banyak nyawa yang melayang karena perbedaan agama yang ada? Itu karena kita diajarkan bahwa Indonesia adalah negara yang beragama, padahal faktanya Indonesia adalah negara yang SOK BERAGAMA.

Berapa banyak kaum muslim yang dianggap anarkis, hanya karena tindakan bodoh para teroris?
Berapa banyak kaum hindu/buddhist yang dianggap atheis, hanya karena mereka percaya adanya reinkarnasi?
Berapa banyak kaum nasrani yang dianggap kafir, hanya karena mereka percaya Yesus?

Terlalu bodoh rasanya kalau kita menghakimi kehidupan seseorang hanya dari sudut pandang religius yang bersangkutan. Tidakkah kita sadar bahwa tidak ada satupun dari kita yang tahu mana yang benar dan tidak. Saya tidak pernah percaya dengan kata ‘baik’ atau ‘buruk’, karena kebaikan itu abstrak, subjektif. Tidak ada ukuran pasti untuk suatu kebaikan, dan jujurlah bahwa dalamnya hati manusia tidak ada yang tahu, sesuci apapun manusia itu terlihat.

Tidakkah kita terlihat kekanakan karena meributkan masalah agama, padahal bumi tempat kita berpijak sedang munuju ambang kehancuran?
Tidakkah kita terlihat lemah karena meributkan masalah agama, padahal tidak ada satupun dari kita yang bisa berkoar saat bencana alam datang?
Tidakkah kita terlihat egois karena meributkan masalah agama, padahal kelaparan setiap detik membunuh satu per satu dari kita?

Terlalu banyak hal yang jauh lebih esensial untuk dipikirkan, didiskusikan, dicari solusinya. Seandainya kita mau lebih rendah hati untuk kembali introspeksi ke diri masing-masing, bukannya malah memegahkan diri. Kita hanya ciptaanNya, terbuat dari debu. Siapakah kita sanggup menghakimi sesama manusia yang sama lemahnya, sama statusnya, sama artinya di hadapan Tuhan?

Agama sudah melenceng dari nilai religiusnya sendiri. Dewasa ini, agama tidak jauh berbeda dengan bisnis MLM (multi level marketing). Semakin banyak anggotanya, semakin lah mereka merasa bahwa mereka benar (baca:mereka yang membenarkan diri mereka, bukan Tuhan).

Kehidupan sudah terlalu banyak ditaburkan kebencian, amarah, dendam. Sampai kapan ini harus berlanjut? Atau haruskah Tuhan sendiri yang menyadarkan kita dengan maut?

Hidup kita terlalu singkat untuk dibuang percuma demi hal-hal yang berujung pada nafsu humani. Hidup kita terlalu berharga untuk kita habiskan dengan membenci satu sama lain. Jadi jika anda mengatakan anda beriman dan ber-Tuhan, buktikanlah itu dengan perbuatan nyata kasih anda tanpa embel-embel agama.

Beragamakah saya?
Saya tidak beragama. Saya ber-Tuhan.

Imagine all the people, Living for today
Imagine all the people, Living life in peace
Imagine all the people, Sharing all the world
I hope someday you’ll join us,
And the world will live as one

p.s: post ini tidak bermaksud SARA. Post ini hanya ungkapan kegelisahan hati penulis yang adalah korban SARA.

Cheers,
Vness

One Response to “Beragamakah saya?”

  1. Anonymous April 21, 2010 at 2:01 pm #

    setujuu..
    daripada sibuk berkoar2,, ngurusin hidup orang,, mending ngelurusin hidup sendiri,, uda bener belom di mata Tuhan..
    orang lain juga lebi seneng hidup berdampingan dengan orang diem (ga fanatik n bkoar2 ttg agamanya) tp perilakunya penuh kasih,, daripada kebalikanya..
    padahal kita diciptain kan: mulut cuman satu,, tapi tangan 2, kaki 2..
    artinya: sedikit bicara,, tp banyak berbuat..
    betuul?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: